Motif batik solo dilihat dari nilai simbolik

Motif batik solo

Motif batik solo dilihat dari nilai simbolik

Pakaian bermotif batik merupakan jenis pakaian yang memiliki karak-teristik berbeda dengan pakaian polos. Hal itu karena motif batik dibuat erat kaitannya dengan makna atau nilai tertentu. Makna batik bisa berupa lambang atau simbol tertentu, seperti petuah, petunjuk, larangan, serta anjuran. Sebagai contoh pakaian seragam batik motif batik Kresna yang dipakai oleh pegawai negeri Kota Surakarta pada hari Kamis. Melihat tokoh wayang yang disimbolkan maka diharapkan aparatur pemerintahan Kota Surakarta dapat meneladani tokoh wayang Kresna. Kresna merupakan tokoh wayang yang memiliki sifat mulia, seperti jujur, pemberani, selalu membela kebenaran, selalu mendamaikan perselisihan, suka menolong bagi yang memerlukan, dan membela rakyat serta negara bila negara berselisih dengan negara lain.

Contoh lain makna motif batik adalah motif batik Sido Mukti. Kain motif Sido Mukti biasanya dipakai oleh pasangan pengantin pada upacara pernikahan. Dalam bahasa Jawa, sido artinya menjadi (jadi) dan mukti artinya mulia dan makmur. Motif Sido Mukti melambangkan kehidupan yang makmur (cukup sandang dan pangan) serta berhati mulia. Selain itu bermakna harapan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan yang kekal untuk kedua mempelai. Kadang pasangan pengantin juga menggunakan batik bermotif Sido Asih. Motif Sido Asih ini melambangkan harapan di dalam hidup berumah tangga selalu penuh kasih sayang di antara kedua mempelai. Contoh motif batik itu bisa memberikan gambaran betapa dalamnya nilai yang terkandung dari motif batik Surakarta. Beberapa contoh lain makna motif batik Surakarta adalah sebagai berikut.

  1. Motif Sloboh yang berarti longgar, agak besar atau lancar. Motif ini digunakan untuk melayat dengan harapan arwah orang yang meninggal diberikan kelancaran dan diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Motif Sido Mulyo/Sido Luhur yang berarti sampai pada tujuan mulia dan luhur. Kain motif ini biasanya dipakai oleh pasangan pengantin pada upacara pernikahan.
  3. Motif Ratu Ratih dan Semen Rama yang melambangkan kesetiaan seorang istri. Kain motif ini biasanya dipakai oleh pasangan pengantin pada upacara pernikahan.
  4. Motif Truntum yang berarti penuntun. Motif Truntum memiliki makna sebagai orang tua memberikan tuntunan kepada kedua mempelai. Truntum bisa diartikan lambang cinta yang bersemi memasuki hidup baru berumah tangga. Motif ini sering dipakai oleh orang tua pasangan pengantin pada upacara pernikahan. Hal itu dikandung maksud memberikan restu bagi kebahagiaan kedua mempelai.
  5. Motif Sido Wirasat yang melambangkan orang tua memberi nasihat kepada kedua mempelai. Kain motif Sido Wirasat biasanya dipakai oleh orang tua pengantin pada upacara pernikahan.
  6. Motif Satria Manah yang berarti seorang satria memanah selalu mengenai sasaran yang berarti memiliki harapan bila sang pria melamar bisa diterima pihak wanita. Kain motif Satria Manah dipakai oleh wali pengantin pria ketika meminang.
  7. Motif Semen Rante yang melambangkan ikatan kokoh. Artinya, bila lamaran diterima, pihak wanita menginginkan hubungan erat dan kokoh. Motif Semen Rante digunakan sebagai salah satu syarat dalam lamaran.
  8. Motif Madu Bronto yang berarti asmara, diartikan manis bagaikan madu. Kain motif Madu Bronto ini diberikan kepada seorang wanita oleh seorang pria untuk menyatakan isi hati.
  9. Motif Parang Kusumo dan Parang Canthel, berarti bunga yang telah mekar. Kain batik ini dimaksudkan bahwa seorang wanita sudah ada yang memiliki dan dipakai saat tukar cicin.
  10. Motif Sekar Jagad yang melambangkan hati yang gembira dan semarak karena putra-putrinya telah mendapat jodoh. Kain motif Sekar Jagad biasanya dipakai oleh orang tua pengantin.
  11. Motif Sri Nugroho, melambangkan mendapat anugerah dalam wujud menantu atau calon menantu.

Pada masa sekarang sudah tidak semuanya menerapkan motif itu pada acara sesuai dengan ketentuan yang diatur sesuai adat Jawa. Meskipun begitu, paling tidak nilai-nilai yang terkandung pada lambang batik itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat seka­rang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *