Motif batik solo adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik

Motif batik solo adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Dibandingkan dengan motif lain dari berbagai daerah di Indonesia, motif batik Surakarta terlihat lebih rumit, rapat, dan dibuat secara rapi serta penuh dengan isian (isen-isen).

Dari motif tersebut, terlihat motif dibuat dengan kecermatan, kesabaran, dan penuh dengan makna simbolik. Bila melihat motif batik Surakarta, kita dapat melihat dari berbagai sudut pandang, yaitu aspek visual, warna, dan makna simbolik.

Aspek visual adalah aspek yang terlihat oleh mata kita. Bila kita melihat motif batik Solo, akan terlihat motif pokok berupa klowongan. Klowongan adalah motif pembentuk gambar berupa garis paling tepi, seperti gambar burung dan ikan di atas. Di dalam klowongan berisi garis, titik, atau sisik yang disebut isen-isen. Di samping terdiri atas klowongan dan isen-isen, batik juga dilengkapi dengan motif tambahan yang ditempatkan di antara motif pokok. Motif tambahan bisa berupa bunga/ceplok, ranting, daun, dan awan.

Motif batik tersusun atas dua bagian utama, yaitu ornamen motif batik dan isen motif batik. Ornamen motif batik terdiri atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang atau ornamen tambahan. Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang menentukan motif yang memiliki arti. Ornamen tambahan berfungsi sebagai pengisi bidang yang tidak memiliki arti seperti pada ornamen utama. Isen motif batik adalah berupa titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk mengisi ornamen utama maupun ornamen tambahan.

Ornamen pokok dalam motif batik dapat berupa :

  1. meru yang melambangkan gunung atau tanah yang disebut bumi;
  2. pohon hayat atau tumbuhan yang melambangkan dunia tengah;
  3. garuda yang melambangkan matahari atau tata surya;
  4. burung yang melambangkan dunia atas;
  5. candi atau perahu (bangunan) yang melambangkan keramat;
  6. lidah api yang melambangkan api;
  7. naga yang melambangkan air;
  8. binatang yang melambangkan keperkasaan dan kesaktian;
  9. kupu-kupu.

Ornamen pengisi adalah ornamen yang berfungsi sebagai pengisi bidang un­tuk memperindah motif secara keseluruhan. Ornamen pengisi bentuknya lebih kecil dan lebih sederhana. Pada ornamen pengisi terdapat beberapa macam ben­tuk, yaitu bentuk burung, binatang sederhana, tumbuhan (kuncup, daun, bunga, atau lung-lungan). Adapun isen-isen merupakan corak tambahan yang terletak dalam omamen pokok dan ornamen pengisi. Bentuk isen-isen lebih kecil dan rumit, serta jumlahnya relatif banyak. Macam-macam isen-isen, antara lain ce­cek (cecek pitu, cecek sawut, cecek sawut daun), sisik melik, herangan, sisik, gringsing, sawut, galaran, rambutan atau rawan, sirapan, dan cacah gori.

Dilihat dari polanya, motif batik dibagi menjadi dua, yaitu motif geometris dan motif nongeometris. Motif geometris adalah motif yang mudah dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, yang mana bagian tersebut bila disusun akan menjadi motif yang utuh. Motif geometris dibedakan menjadi dua macam, yaitu geo­metris yang berbentuk ilmu ukur (persegi dan lingkaran), seperti pada motif ceplok dan kawung; geometris yang tersusun dalam garis miring (belah ketupat), seperti pada motif parang dan udan liris. Motif nongeometris adalah motif yang susunannya tidak teratur menurut bidang geometris, meskipun dalam bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motifnya. Motif nongeometris ter­susun dari ornamen-ornamen tumbuhan, meru, pohon hayat, candi, binatang, burung, garuda, ular atau naga. Motif yang termasuk dalam motif nongeometris adalah motif semen.

Selain berupa motif, aspek visual yang terlihat oleh mata kita adalah berupa warna. Warna pada motif batik klasik Surakarta kebanyakan berupa warna Sogan, indigo (biru), hitam, dan putih. Warna tersebut sesuai dengan kondisi alam di sekitar Surakarta yang tanahnya berwarna hitam dan kecokelatan ada yang terang dan ada yang gelap. Dalam pembuatan batik, jumlah warna akan sangat berpengaruh terhadap proses pembuatan. Semakin banyak warna maka pembuatannya semakin rumit dan harganya semakin mahal.

Di samping aspek warna, batik klasik Surakarta memiliki makna simbolik yang mendalam. Setiap motif atau corak yang ditampilkan mengandung makna dan pesan bagi pemakainya maupun yang melihatnya.

Contoh :

  1. Batik Semen Candra, candra berarti rembulan, maksudnya kedudukan tinggi dan memberi sinar terang saat gelap.
  2. Batik Semen Gendong, gendong berarti mengangkat, maksudnya supaya bisa mengangkat tinggi derajat.
  3. Batik Ratu Ratih, berarti kemuliaan, keagungan pribadi yang bisa menyesuaikan diri dengan alam lingkungannya.
  4. Batik Bokor Kencana, bokor berarti tempat air bunga dan kencana berarti emas. Maknanya diharapkan akan mendatangkan kewibawaan dan keagungan sehingga disegani masyarakat.

Beberapa motif batik di atas adalah contoh batik yang telah diciptakan dengan sepenuh hati. Motif batik itu tidak hanya indah dipandang saja, namun mempunyai arti, makna, dan harapan-harapan serta pesan-pesan yang sangat dalam bagi si pemakainya.
batik solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *